Doa yang Menggetarkan Langit
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, hiduplah seorang pria bernama Sarman. Ia hanyalah seorang buruh tani yang hidup sederhana, bahkan cenderung kekurangan. Rumahnya terbuat dari kayu tua yang mulai lapuk, atapnya sering bocor jika hujan turun, dan setiap malam angin malam menerobos masuk melalui celah-celah dinding bambu. Namun, meskipun hidup dalam kemiskinan, Sarman tidak pernah berhenti berdoa. Setiap malam, setelah menyelesaikan pekerjaannya yang melelahkan, ia mengambil air wudhu dari kendi di sudut rumahnya, lalu bersujud di atas sajadah lusuh yang sudah bertahun-tahun ia gunakan. "Ya Allah, Engkau Maha Pemberi Rezeki. Aku tidak meminta emas atau permata, aku hanya ingin hidup tenang dan tidak membebani orang lain," doanya lirih, dengan mata yang berkaca-kaca. Tetapi doa-doanya seolah tak kunjung dijawab. Hidupnya tetap sulit, bahkan sering kali ia harus menahan lapar karena hasil panen yang buruk. Tetangga-tetangganya mulai berbisik-bisik, "...